Website Desa Blambangan

Kec. Bawang, Kab. Banjarnegara, Prov. Jawa Tengah

SEJARAH DESA

Sejarah Desa Blambangan

πŸ“… 15 Mei 2026 πŸ‘€ Administrator

Blambangan adalah desa yang terletak di wilayah Kecamatan Bawang, Kabupaten Banjarnegara, Jawa Tengah, desa ini berbatasan dengan desa Gemuruh disebelah selatan, desa Bandingan disebelah barat, desa Pucang disebelah timur dan sungai Serayu atau bendungan Jenderal Soedirman disebelah utara.


Diriwayatkan, Desa Blambangan ini merupakan salah satu desa tertua di Banjarnegara. Berikut kepemimpinan atau pemerintahan desa Blambangan dari masa ke masa, mulai dari tahun 1817 hingga masa modern saat ini atau tahun 2024, atau sudah berumur 207 tahun.


Blambangan sebelum Tahun 1817

Masa sebelum tahun 1817 belum ditemukan sumber yang menyebutkan bahwa di wilayah yang sekarang bernama desa Blambangan sudah ada kesatuan wilayah, atau masih masuk wilayah kesatuan wilayah yang lain


Dipasura (1817–1827)

Masa kepemimpinan Dipasura dimulai pada tahun 1817 sampai dengan 1827. Karena kesaktiannya Dipasura diangkat menjadi Kuwu (sebutan kepala desa pada saat itu) yang diyakini oleh sesepuh desa yaitu pada tanggal 19 September 1817. Dengan berjalannya waktu dibawah kepemimpinan Dipasura wilayah Blambangan pada saat itu dikenal dengan banyak nama antara lain Bala Abangan, Blengbengan, Blungbangan, menjadi perhatian penguasa pada saat itu karena banyaknya penduduk yang melakukan kegiatan tidak terpuji.

Wilayah desa Bala Abangan juga masih terpecah-pecah belum bersatu dikarenakan Dipasura yang tidak memperhatikan masalah pemerintahan. Karena keprihatinan penguasa pada saat itu, maka diadakan sayembara barangsiapa yang bisa mengalahkan Dipasura akan diangkat menjadi Kuwu Bala Abangan dan akhirnya Dipasura berhasil dikalahkan oleh Dipadrana.


Dipardana/Arsadrana I / R. Ngabei Dipawirja/Mas Agus Satiman (1827-1857)

Masa kepemimpinan Dipadrana dimulai dari tahun 1827 sampai dengan 1857 setelah mengalahkan Dipasura, Dipadrana adalah seorang abdi dalem Kasultanan Ngayogyakarta Hadi Ningrat yang merupakan putra Raden Ngabei Dipawidjaja/Dipamenggala/Bagus Gugu. Dipadrana diangkat sebagai anak sekaligus murid oleh Kyai Bowani yang tinggal di wilayah yang sekarang menjadi dusun Majalangu desa Majalengka. Kyai Bowani konon adalah keturunan dari Syeh Subakir. Kyai Bowani prihatin dengan keadaan Bala Abangan dan memerintahkan Dipadrana ikut sayembara mengalahkan Dipasura. Dasyatnya pertarungan antara Dipadrana dan Dipasura diibaratkan seperti pertarungan antara Adipati Blambangan yaitu Adipati Minak Jingga melawan Kebo Marcuet yang mungkin menjadi awal ditetapkan nama Desa Blambangan yaitu karena kesaktian Dipadrana menyerupai adipati Minakjingga.Pemakaman & Duka Cita Kemenangan Dipadrana menjadikan beliau Kuwu atau Kepala desa di Blambangan. Pada masa Dipadrana dengan kesaktian dan kewibawaannya wilayah desa Blambangan bisa disatukan menjadi satu kesatuan wilayah. Berdasarkan catatan silsilah dari keluarga besar Arsadiwiryan, Dipadrana/ Raden Ngabei Dipawirja juga menjabat Patih Banjarnegara setelah menjadi Kepala Desa Blambangan. Dipadrana mempunyai 2 orang putra yaitu Arsadrana Ragil yang menjadi Kuwu di Blambangan dan Arsadrana Mbarep /Jagareja yang menjadi Kuwu pertama di desa Majalengka. Dipadrana juga mempunyai julukan lain yaitu Ki Sembung dan dikarenakan beliau tinggal di wilayah yang akhirmya dinamakan Dusun Sembunggrugul, dan dengan berjalannya waktu saat ini nama Sembunggrugul berubah menjadi Sembungsemi.


Arsadrana II/Raden Ngabei Wirjadiredja/H. Abu Bakar (1857-1884)

Masa kepemimpinan Arsadrana dimulai dari tahun 1857 sampai dengan 1884. Arsadrana adalah putra Dipadrana yang melanjutkan kepemimpinan Dipadrana. Arsadrana muda adalah salah satu senopati/mandala perang pasukan Pangeran Diponegoro diwilayah Loano-Bagelen Purworejo bersama Pangeran Djojo Moestopo (Sumber: Buku Sejarah Nasional Indonesia Bab II).Sejarah Setelah menjabat Penatus Blambangan, Arsadrana/Raden Ngabei Wirjadireja /H. Abu Bakar diangkat menjadi Patih Bagelen/Purworejo pada tahun 1878–1887. Arsadrana di makamkan di Pesarean Dawuhan Banyumas. Pada saat Arsadrana diangkat menjadi Patih Bagelen/Purworejo konon istri Beliau yang Bernama Nyai Tawang tidak berkenan ikut ke Bagelen. Nyai Tawang tetap tinggal di Desa Blambangan didusun yang akhirnya dinamakan Dusun Tawangsari.



Wangsamenggala (1884–1888)

Masa Kepemimpinan Wangsamenggala diperkirakan dari tahun 1884 sampai dengan 1888. Wangsamenggala berdasarkan cerita dari keluarga Arsadiwiryan masih kerabat dari Arsadrana, sementara belum ada data atau cerita yang lebih deatail tentang Wangsamenggala.



R.M Arsadiwirya/Raden Rahadi Datan Anglin (1888–1900)

Masa Kepemimpinan Arsadiwirya berdasarkan catatan keluarga Arsadiwiryan adalah dari tahun 1888 sampai dengan 1900. Arsadiwirya adalah putra dari Arsadrana/Raden Ngabei Wiryadiredja. Pada saat itu berdasar catatan, Beliau adalah Penatus Blambangan, satuan kewilayahan disebut dengan Penatusan. Arsadiwirya dan istri (Nyai Waita) dimakamkan di Makam Kuwondogiri setelah direlokasi dari makam Depok (sekarang tergenang air bendungan Jenderal Soedirman).


R.M Soepangkat Goeteng Atmodimedjo (1900–1928)

Masa kepemimpinan R. M. Soepangkat Goeteng Atmodihardjo menurut catatan keluarga Arsadiwiryan adalah dari tahun 1900 sampai dengan 1928. R.M. Soepangakat Goeteng Atmodihardjo merupakan putra mbarep dari Arsadiwirya.


Boerhan (1928–1931)

Masa kepemimpinan Boerhan diperkirakan dari tahun 1928 sampai dengan 1931.


Atmodihardjo (1931-1937)

Masa kepemimpinan Atmodihardjo diperkirakan dari tahun 1931 sampai dengan 1937.


Kramadiwirja (1937–1939)

Masa kepemimpinan Kramadiwirja diperkirakan dari tahun 1937 sampai dengan 1939.


Masa kepemimpinan Kramadiwirja diperkirakan dari tahun 1937 sampai dengan 1939.


Abdoel Sakoer (1939–1945)

Masa kepemimpinan Abdoel Sakoer diperkirakan dari tahun 1939 sampai dengan 1945.


Abdoelloh Sirod (1945–1951)

Masa kepemimpinan Abdoelloh Sirod diperkirakan dari tahun 1945 sampai dengan 1951.


Soeyitno Arsadiwirja (1951-1976)

Masa kepemimpinan R. Soeyitno Arsadiwirja dimulai dari tahun 1951 sampai dengan 1976. R. Soeyitno Arsadiwirya adalah putra dari R. M. Soepangkat Goeteng Atmodimedja.


Sri Soelamsi Chodiroh (1976–1988)

Masa kepemimpinan Sri Soelasmi Chodiroh dimulai dari tahun 1976 sampai dengan 1988. Ibu Diroh adalah putri dari R. Soeyitno Arsadiwirya. Beliau adalah satu-satunya Kepala Desa Perempuan di Desa Blambangan. Dimasanya, dibangun Kantor dan Balai Desa Blambangan yang sebelumnya menempati rumah masing- masing Kepala Desa sebagai Kantor dan Balai Desa.


Soeradik (1988–1999)

Masa kepemimpinan Soeradik dimulai tahun 1988 sampai dengan 1999.


Kusneri (1999–2005)

Masa kepemimpinan Kusneri dimulai pada tahun 1999 sampai dengan 2005.


Badrusalam (2005–2014)

Masa kepemimpinan Badrusalam dimulai tahun 2005 sampai dengan 2014. Beliu wafat pada masa bakti kedua sebagai Kepala Desa Blambangan, dalam menunggu terpilihnya Kepala Desa selanjutnya ditunjuk Agung Dwi Antoko sebagai Penjabat Kades dari Pemerintah Daerah Banjarnegara.


Haryoto (2015–2018)

Masa kepemimpinan Haryoto dimulai dari tahun 2015 sampai dengan 2018. Beliau wafat pada tahun ke 3 masa bakti sebagai Kades Blambangan, dalam menunggu terpilihnya Kepala Desa Pengganti Antar Waktu selanjutnya ditunjuk Sulistyono sebagai Penjabat Kades dari Pemerintah Daerah Banjarnegara.


Sukisno (2019–Sekarang)

Masa kepemimpinan Sukisno dimulai dari tahun 2019 sampai dengan sekarang. Beliau terpilih sebagai Kepala Desa Pengganti Antar Waktu di masa bakti pertama dan terpilih kembali untuk masa bakti kedua sampai sekarang. Itulah tadi, kepemimpinan desa Blambangan dari masa ke masa, sementara dari hasil penelusuran sejarah yang bersumber dari wawancara dengan kesepuhan dan tokoh masyarakat, penentuan tanggal dan tahun berdirinya desa Blambangan Banjarnegata diawali dengan jejak Kepala Desa pertama pada tanggal 19 September 1817.Sejarah Dari tahun tersebut, 1817-2024 menandakan umur desa Blambangan kini menginjak 207 tahun, dimana pada 19 September 2024, akan digelar serangkaian acara, mulai malam tirakat dan doa bersama, hingga kirab sejarah, hingga makan besama, dan disemarakan dengan pertunjukan kesenian tradisional. Pada acara tersebut juga akan dibacakan kekancingan atau surat keputusan penetapan hari jadi desa Blambangan, Banjarnegara.*** Disclaimer: Jika terdapat ketidaksesuaian nama, tahun, dan lokasi dalam artikel ini, penulis mohon maaf. Saran dan koreksi dapat langsung ditujukan kepada Pemerintah Desa Blambangan, Banjarnegara, agar dapat segera disesuaikan dengan bukti sejarah yang otentik.

← Kembali ke Beranda